MEULABOH - Gubernur Aceh Zaini Abdullah meresmikan operasi
terpadu tambang batu bara PT Mifa Bersaudara, di kompleks pelabuhan batu
bara di kawasan Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Rabu
(22/4) kemarin.
Menyampaikan sambutannya pada acara itu, Gubernur Zaini Abdullah
menegaskan, investasi di Aceh kini sudah semakin baik dalam menggerakkan
roda perekonomian masyarakat di wilayah ini. “Saya tegaskan kembali
bahwa Aceh nyaman untuk investor dan sangat aman, karena didukung
kondisi keamanan yang semakin kondusif,” katanya.
Kondisi keamanan yang semakin baik untuk investasi di Aceh, sebut
Gubernur Zaini, telah dibuktikan oleh PT Trakindo dan Perwakilan Media
Group, yang telah berani berinvestasi di Aceh untuk tahap awal mencapai
202 juta dolar AS atau Rp 2,6 Triliun dengan menyerap tenaga kerja tak
kurang dari 201 orang, yang dimulai penjajakannya sejak 2011 melalui PT
Mifa Bersaudara.
Dia mengatakan realisasi investasi di Aceh pada 2014 lalu mencapai
22,31% atau sebesar Rp 6,23 Triliun. Pada tahun yang sama, realisasi
sektor pertambangan (PMDN) tumbuh 48,51%. “Kehadiran industri pengolahan
batu bara dan industri pengolahan lainnya sangat diharapkan untuk
memberikan nilai tambah bagi perekonomian, terutama di wilayah pantai
barat Aceh,” katanya.
Gubernur juga menginstruksikan kepada seluruh aparat pemerintah di
Aceh Barat dan Nagan Raya agar terus mendukung dan menjaga operasional
PT Mifa Bersaudara, sehingga perusahaan ini dapat membawa investor
lainnya ke Aceh guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat,
khususnya di kawasan pantai barat Aceh. “Namun kegiatan usaha
pertambangan diharapkan tidak mengabaikan faktor kelestarian lingkungan
dan hal itu harus menjadi komitmen perusahaan dan semua pihak,”
harapnya.
“Saya telah mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 11/ INSTR/2014
tentang Moratorium Izin Usaha Pertambangan Mineral Logam dan Batu Bara.
Bahkan Bupati Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya dan Walikota
Subulussalam telah mencabut 22 Izin Usaha. Untuk jangka panjang saya
mengharapkan hasil batu bara tidak diekspor dalam bentuk bahan mentah,
tetapi dapat diolah terlebih dahulu di Aceh, sehingga memberikan nilai
tambah yang lebih tinggi bagi perekonomian Aceh,” paparnya.
Di sisi lain, Gubernur Zaini juga mendapat laporan bahwa surat yang
ia kirimkan kepada PLN, agar PLTU 1 dan 2 Nagan Raya dapat menggunakan
batu bara lokal, mendapat sambutan baik dari PLN. Tentu ini akan
menghemat biaya bagi PLN karena dapat menggunakan batu bara yang
dihasilkan dari bumi Teuku Umar ini dan juga akan meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh.